Manuskrip Di Pagi yang Lembab
26 Aug 2009 Leave a Comment
Di suatu pagi saat aku sedang duduk di teras rumah seraya menikmati sejuknya embun pagi, aku menyadari satu hal: Manusia tak pernah bisa jauh dari cinta.
Aku tahu ini bukan Valentine’s day, bukan juga hari pernikahan salah seorang kerabat yang seringnya membuat orang-orang banyak merenungkan makna dari cinta sesungguhnya. Ini hanyalah satu hari biasa pada pagi yang lembab, dimana aku tiba-tiba mendapatkan ilham akan hal ini.
Kusadari ada banyak cerita cinta yang menghiasi bumi, menjadikannya tempat yang terkadang bisa sangat manis atau juga sangat pahit. Tergantung ke arah mana cinta akan menyesatkan seseorang. Hanya saja terkadang, kita bahkan tak pernah sadar kalau cinta itu sedang membawa kita ke jurang kesengsaraan yang tak bertepi. Dan sekali lagi, menjadikannya satu-satunya hal paling jahat di seluruh jagad raya.
Hmm, aku sendiri telah banyak membaca cerita cinta. Semuanya sama. Berakar pada satu konsep: pahit dan manis secara bersamaan, dan dari semua cerita yang pernah kutemukan, hanya ada satu yang benar-benar menarik perhatianku.
Ramayana.
Aku begitu jatuh cinta pada epos percintaan ini hingga kadangkala aku terhanyut dalam setiap lembaran-lembaran ceritanya. Lihatlah bagaimana romantisme Rama dan Sita saat mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu, serta bagaimana Rama mengorbankan setiap tarikan nafasnya untuk menyelamatkan Sita.
Dari ribuan versi yang telah dibuat, aku paling menyukai ini :
Rama yang telah memilih untuk mengasingkan diri di pertapaan terpaksa harus berhadapan dengan Rahwana yang telah menculik istrinya Dewi Sita. Konon Rawana jatuh hati kepada Sita, yang ternyata sangat mencintai Rama. Rawana pun kemudian menculik Sita ke kerajaannya di Alengka. Rawana juga melakukan segala hal yang dapat menyenangkan hati Sita. Bahkan Alengka pun dipenuhi ribuan bulan bulat tiap malam, sebagai persembahan cinta Rawana kepada Sita. Namun Sita tetap sangat merindukan Rama.
Begitu pula dengan Rama, yang melewatkan musim hujan di gunung Malyawan dalam kedukaan yang dalam. Dalam pupuh ketujuh kitab Ramayana, kerinduan itu dituliskan dengan sangat puitis: “musim yang menimbulkan rasa rindu akan kekasih”. Kerinduan yang ironis, karena kemudian menyebabkan terbakarnya Alengka akibat serangan Rama yang dibantu adiknya, Laksmana, serta pasukan kera pimpinan Hanuman. Sita pun terlepas dari cengkraman Rawana, setelah Rama berhasil menewaskannya.
Namun, seperti ‘scene’ love story lainnya, sebuah akhir akan berlanjut pada sebuah awal yang baru. Rama tiba-tiba merasa dirinya sudah tak cocok hidup sebagai suami istri dengan Dewi Sita karena ia telah begitu lama hidup bersama dengan Rahwana. Rama tenggelam dalam keraguan pernyataan ini, dan sama sekali tak berbuat apapun manakala keraguan ini menggerogotinya.
Rama meragukan kesucian Dewi Sita.
Ia mengecewakan Dewi Sita yang telah sekian lama menantinya, berharap Rama akan datang menyelamatkannya dari cengkeraman Rahwana seraya mengucapkan kalimat pemujaan terhadapnya. Kalimat kerinduan yang telah sekian lama tak terucap, yang hanya bisa dibawa sang angin untuk dihembuskan pada telinga semut-semut di tanah atau rumput yang bergoyang di sesemakan.
Tapi semua itu tak pernah terjadi. Rama yang telah melintasi seluruh negeri malah datang membawa keraguannya dan menuntut Dewi Sita membuktikan kesuciannya, ia menuntut seorang wanita paling suci yang dianugerahkan Para Dewa untuknya. Kebodohan yang sangan absurd bagi seorang pewaris takhta.
Atas dasar cintanya pada Rama, Dewi Sita membuktikan kesuciannya dengan mengorbankan dirinya pada kobaran api. Bila jasadnya nanti berubah menjadi arang, maka betul lah apa yang dituduhkan Rama, bahwa Dewi Sita tak suci lagi. Namun, apabila sebaliknya, maka Dewi Sita tetaplah suci, yang artinya akan menghantarkan Rama akan penyesalannya.
Rama tetap bergeming.
Pada akhirnya, Sita yang telah terluka hatinya mencoba membakar diri. Agni, sang dewa api membantunya karena pada saat Sita menerjunkan diri api langsung berubah menjadi bunga teratai emas.
Rama ditikam penyesalan yang amat dalam. Tapi apa arti dari sebuah penyesalan ketika akhirnya waktu tak akan bisa terulang?
Sebuah kisah cinta paling romantis sepanjang masa yang dibalut oleh epik pertarungan antara Rama dan Rahwana. Lihat bagaimana Rama rela melakukan segala cara untuk menyelamatkan Dewi Sita. Ia mempertaruhkan nyawanya pada setiap langkah yang membawanya semakin dekat dengan Dewi Sita. Hal yang sudah sangat langka kita jumpai dalam kehidupan nyata. Pasangan lain mungkin akan berpikir dua kali untuk memutuskan menunggu ketika cintanya tak tersampaikan.
Lalu bagian ketika kerinduan Rama dan Sita yang tak bisa terbalaskan. Bagian itu benar-benar menginspirasiku, terutama juga karena ditulis dengan sangat romantis dalam kitab Ramayana.
Tapi siapa yang menyangka kalau semua itu bisa dikalahkan oleh penghasut dalam pikiran Rama, yang meniupkan paham-paham ideologis tentang kesucian Dewi Sita. Hal ini membuktikan sesuatu pada kita; bahwa Rama tak mempercayai Dewi Sita tak peduli berapapun ia diyakinkan kalau Dewi Sita masih suci. Padahal suatu kepercayaan adalah fondasi utama dalam suatu hubungan, dan rupanya hal tersebut belum menjadi fondasi yang kuat bagi Rama dan Sita. Hal yang sangat disayangkan terjadi pada Epos romantic seperti ini.
Aku berpikir, cerita Jawa Kuno bisa lebih dashyat daripada cerita impor manapun. Disamping itu, cerita cinta Jawa Kuno bisa jadi sumber inspirasi akan kehidupan. Datangnya cinta memang dapat menghasilkan berjuta akibat. Mulai dari rivalitas yang menyebabkan peperangan; hingga tentang perjuangan dan pengorbanan.
Betapa pun cinta dapat membuat manusia menjadi buta, namun seperti yang diajarkan naskah-naskah Jawa Kuna: bukan cinta yang hendaknya diagungkan. Tetapi dharma kepada cinta-lah yang harus diperjuangkan.