Serba Terakhir

Aku gamang.

Aku menjadi gamang ketika siang ini kusadari kalau aku cuma punya waktu 8 bulan. Delapan bulan yang sangat pendek, karena hanya inilah waktu yang kumiliki untuk berada di sekolah ini.

Ini adalah saat-saat semuanya menjadi terakhir bagiku. Liburan puasa terakhir, Diesnatalis terakhir, pondhok ramadan terakhir, semuanya serba terakhir. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya menjalani dilema ini, dilema yang konon katanya selalu dialami siswa tahun akhir.

Setiap kali aku menjalani “last things” itu, aku selalu menjadi gamang dan hampa, inilah kesempatan terakhirku. Aku tahu kalau tahun depan aku takkan bisa menjalani hari-hari seperti ini lagi. Saat-saat dimana aku dengan sibuknya mengurusi semua tugas yang tertunda, merasakan hawa sekolah di pagi hari saat aku secara tidak biasa datang pagi, dan yang paling penting adalah mengenakan pakaian itu lagi. seragam sekolah yang telah menjadi bagian dari diriku selama 3 tahun ini

Sekolah ini, serta segala hal yang terkandung di dalamnya adalah diriku. Sesuatu yang takkan mungkin bisa terpisahkan. Menjalani segala saat-saat terakhir itu memang sangat menyiksa, mehiraukannya juga takkan menjadikannya lebih baik.

Mungkin, hanya dalam teori probabilitas yang tak tentu kebenarannya, melihatnya sebagai suatau masa depan akan bisa membuatnya lebih manusiawi dalam hatiku yang takkan pernah rela melepas masa-masa SMA.

Disuatu siang di ruang kelas yang telah kosong

Sendiri…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.