Reinkarnasi Eleanor

Tiga bulan berlalu sejak terakhir kali aku menulis di Serba Terakhir. Aku terhimpit dalam sebuah tekanan. Hidup diantara bayang-bayang UN, bimbel, serta tumpukan-tumpukan soal ujian masuk PTN. Serasa sulit bernapas tiap harinya sampai-sampai hampir tak ada waktu untuk menulis, yang kata seseorang kepadaku adalah bentuk penyaluran rasa dan karsa dari dalam hati.

Namun, saat satu per satu tekanan itu menguap, saat UN selesai dan aku lulus dengan nem 50,75, serta di saat waktu menjadi kelonggaran tiap harinya, aku merasakan hasrat untuk menulis kembali. Kurindukan suara renyah keyboard saat aku mengetik dengan cepat dan juga sensasi saat aku tersenyum puas melihat tulisanku terposting dengan apik di wordpress.

Aku ingin memulai kembali. Tapi dengan sesuatu yang berbeda.

Sudahkan aku menceritakan tentang film Julie and Julia? Tentu saja belum. Film itu bercerita tentang Julie Powell yang keranjingan menulis di blog tentang hobi memasaknya, sebagai bentuk pelarian setelah seharian bekerja. Lalu aku berpikir, apakah pelarianku?

Aku menunggu, melamun berhari-hari untuk menemukan bentuk pelarian yang tepat, sesuatu yang pantas untuk dimasukkan dalam blog. Namun aku tak bisa menemukannya sedangkan hasrat menulis ini tak lagi bisa dibendung, inspirasi yang terus datang tak lagi bisa dikuasai oleh catatan kecil di buku.

Hingga di suatu sore yang hangat saat aku berwifi ria di kantor kecamatan, seorang teman lewat Yahoo Messenger memberitahuku bahwa kita tidak perlu sebuah alasan untuk menulis, kita tak membutuhkan waktu yang tepat untuk menulis. “Menulislah untuk dirimu sendiri, jadikan itu sebuah terapi bagi diri sendiri, proses detoksifikasi dari racun kehidupan yang menyerang tiap harinya.” Begitu katanya.

Sampai kemudian disinilah aku, sampai di layar komputer kalian masing-masing dalam deretan kata dan paragraf. Mungkin aku tak punya blog petualangan seperti menjelajah Eropa atau juga foto-foto menakjubkan tentang keindahan alam, aku juga tak memiliki target untuk dicapai dalam blog ini seperti halnya Julie Powell. Tetapi aku punya diriku sendiri, sebuah petualangan diri sendiri dalam pencarian jati diri.

Pemikiran-pemikiran yang tercecer dirangkum dalam satu halaman. Tentang dunia yang kukenal dan pendapatku tentangnya.

Melihat dunia lewat belakang punggungku.

Advertisements

Serba Terakhir

Aku gamang.

Aku menjadi gamang ketika siang ini kusadari kalau aku cuma punya waktu 8 bulan. Delapan bulan yang sangat pendek, karena hanya inilah waktu yang kumiliki untuk berada di sekolah ini.

Ini adalah saat-saat semuanya menjadi terakhir bagiku. Liburan puasa terakhir, Diesnatalis terakhir, pondhok ramadan terakhir, semuanya serba terakhir. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya menjalani dilema ini, dilema yang konon katanya selalu dialami siswa tahun akhir.

Setiap kali aku menjalani “last things” itu, aku selalu menjadi gamang dan hampa, inilah kesempatan terakhirku. Aku tahu kalau tahun depan aku takkan bisa menjalani hari-hari seperti ini lagi. Saat-saat dimana aku dengan sibuknya mengurusi semua tugas yang tertunda, merasakan hawa sekolah di pagi hari saat aku secara tidak biasa datang pagi, dan yang paling penting adalah mengenakan pakaian itu lagi. seragam sekolah yang telah menjadi bagian dari diriku selama 3 tahun ini

Sekolah ini, serta segala hal yang terkandung di dalamnya adalah diriku. Sesuatu yang takkan mungkin bisa terpisahkan. Menjalani segala saat-saat terakhir itu memang sangat menyiksa, mehiraukannya juga takkan menjadikannya lebih baik.

Mungkin, hanya dalam teori probabilitas yang tak tentu kebenarannya, melihatnya sebagai suatau masa depan akan bisa membuatnya lebih manusiawi dalam hatiku yang takkan pernah rela melepas masa-masa SMA.

Disuatu siang di ruang kelas yang telah kosong

Sendiri…..

Jared or Ian?

The Host Stephenie MeyerHa!Sudah baca buku The Host? Buku karangan Stepheinie Meyer itu?

Kemarin aku sudah melahap lebih dari setengah isi buku. Well, menarik. Oh, bukan! Lebih tepatnya Bagus! Mengagumkan! Dan me-me lain yang rasanya sulit diungkapkan. Kalau di Twilight Saga Stephenie bercerita tentang impossibly love antara Bella dan sosok vampir ganteng Edward, sekarang Stephenie hadir dengan tema yang benar-benar beda. Science Fiction!

Belum sampai habis memang. Bagi yang tahu, atau bagi yang sudah membaca bukunya, aku baru sampai Bab “Dinginkan”. Rasanya cinta benar-benar ciri khas dari Stephenie ya! Sekali lagi bagi yang telah membaca bukunya, aku mulai merasakan perang batin dalam hatiku. Tidak jauh berbeda dengan Twilight Saga, aku mengalami kebimbangan antara dua pilihan.

Jared atau Ian?

Hiks…hiks…hiks…Jared itu cinta sejatinya Mel dan aku sama sekali tidak berkeberatan Wanda merasakan rasa cinta yang sama. Lagipula Jared itu lebih gentle dan pemberani, klop sekali dengan Mel/Wanda.

Tapi Ian….

Hiks…Hiks…Hiks…Ian punya hati yang halus. Dia mau menerima Wanda apapun keadaannya, lebih protect daripada Jared. Dan yang lebih penting, Ia mencintai Wanda! Ya, Wanda! Bukan Melanie. Aku rasa itulah yang dibutuhkan jiwa kesepian sepertinya. Yaitu cinta, dan Ian memberikan hal itu.

Tapi harus bagaimana?

Tubuh yang dihuni oleh 2 raga itu tetap milik Jared, dan aku rasa apapun yang akan terjadi nanti Jared lah yang berhak memilikinya. Itu tubuh Mel bukan Wanda.

Tapi bagaimana dengan Ian? Demi Tuhan, seandainya saja Jared tidak tiba-tiba berubah baik seperti ini, aku pasti akan lebih mendukung Ian.

Ya, semuanya akan jelas dalam beberapa hari kedepan saat aku menyelesaikan bukunya. Sampai hari itu tiba, plis jangan pernah memberitahuku akhir cerita ini ya!

Manuskrip Di Pagi yang Lembab

Di suatu pagi saat aku sedang duduk di teras rumah seraya menikmati sejuknya embun pagi, aku menyadari satu hal: Manusia tak pernah bisa jauh dari cinta.

Aku tahu ini bukan Valentine’s day, bukan juga hari pernikahan salah seorang kerabat yang seringnya membuat orang-orang banyak merenungkan makna dari cinta sesungguhnya. Ini hanyalah satu hari biasa pada pagi yang lembab, dimana aku tiba-tiba mendapatkan ilham akan hal ini.

Kusadari ada banyak cerita cinta yang menghiasi bumi, menjadikannya tempat yang terkadang bisa sangat manis atau juga sangat pahit. Tergantung ke arah mana cinta akan menyesatkan seseorang. Hanya saja terkadang, kita bahkan tak pernah sadar kalau cinta itu sedang membawa kita ke jurang kesengsaraan yang tak bertepi. Dan sekali lagi, menjadikannya satu-satunya hal paling jahat di seluruh jagad raya.

Hmm, aku sendiri telah banyak membaca cerita cinta. Semuanya sama. Berakar pada satu konsep: pahit dan manis secara bersamaan, dan dari semua cerita yang pernah kutemukan, hanya ada satu yang benar-benar menarik perhatianku.

Ramayana.

Aku begitu jatuh cinta pada epos percintaan ini hingga kadangkala aku terhanyut dalam setiap lembaran-lembaran ceritanya. Lihatlah bagaimana romantisme Rama dan Sita saat mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu, serta bagaimana Rama mengorbankan setiap tarikan nafasnya untuk menyelamatkan Sita.

Dari ribuan versi yang telah dibuat, aku paling menyukai ini :

Rama yang telah memilih untuk mengasingkan diri di pertapaan terpaksa harus berhadapan dengan Rahwana yang telah menculik istrinya Dewi Sita. Konon Rawana jatuh hati kepada Sita, yang ternyata sangat mencintai Rama. Rawana pun kemudian menculik Sita ke kerajaannya di Alengka. Rawana juga melakukan segala hal yang dapat menyenangkan hati Sita. Bahkan Alengka pun dipenuhi ribuan bulan bulat tiap malam, sebagai persembahan cinta Rawana kepada Sita. Namun Sita tetap sangat merindukan Rama.

Begitu pula dengan Rama, yang melewatkan musim hujan di gunung Malyawan dalam kedukaan yang dalam. Dalam pupuh ketujuh kitab Ramayana, kerinduan itu dituliskan dengan sangat puitis: “musim yang menimbulkan rasa rindu akan kekasih”. Kerinduan yang ironis, karena kemudian menyebabkan terbakarnya Alengka akibat serangan Rama yang dibantu adiknya, Laksmana, serta pasukan kera pimpinan Hanuman. Sita pun terlepas dari cengkraman Rawana, setelah Rama berhasil menewaskannya.

Namun, seperti ‘scene’ love story lainnya, sebuah akhir akan berlanjut pada sebuah awal yang baru. Rama tiba-tiba merasa dirinya sudah tak cocok hidup sebagai suami istri dengan Dewi Sita karena ia telah begitu lama hidup bersama dengan Rahwana. Rama tenggelam dalam keraguan pernyataan ini, dan sama sekali tak berbuat apapun manakala keraguan ini menggerogotinya.

Rama meragukan kesucian Dewi Sita.

Ia mengecewakan Dewi Sita yang telah sekian lama menantinya, berharap Rama akan datang menyelamatkannya dari cengkeraman Rahwana seraya mengucapkan kalimat pemujaan terhadapnya. Kalimat kerinduan yang telah sekian lama tak terucap, yang hanya bisa dibawa sang angin untuk dihembuskan pada telinga semut-semut di tanah atau rumput yang bergoyang di sesemakan.

Tapi semua itu tak pernah terjadi. Rama yang telah melintasi seluruh negeri malah datang membawa keraguannya dan menuntut Dewi Sita membuktikan kesuciannya, ia menuntut seorang wanita paling suci yang dianugerahkan Para Dewa untuknya. Kebodohan yang sangan absurd bagi seorang pewaris takhta.

Atas dasar cintanya pada Rama, Dewi Sita membuktikan kesuciannya dengan mengorbankan dirinya pada kobaran api. Bila jasadnya nanti berubah menjadi arang, maka betul lah apa yang dituduhkan Rama, bahwa Dewi Sita tak suci lagi. Namun, apabila sebaliknya, maka Dewi Sita tetaplah suci, yang artinya akan menghantarkan Rama akan penyesalannya.

Rama tetap bergeming.

Pada akhirnya, Sita yang telah terluka hatinya mencoba membakar diri. Agni, sang dewa api membantunya karena pada saat Sita menerjunkan diri api langsung berubah menjadi bunga teratai emas.

Rama ditikam penyesalan yang amat dalam. Tapi apa arti dari sebuah penyesalan ketika akhirnya waktu tak akan bisa terulang?

Sebuah kisah cinta paling romantis sepanjang masa yang dibalut oleh epik pertarungan antara Rama dan Rahwana. Lihat bagaimana Rama rela melakukan segala cara untuk menyelamatkan Dewi Sita. Ia mempertaruhkan nyawanya pada setiap langkah yang membawanya semakin dekat dengan Dewi Sita. Hal yang sudah sangat langka kita jumpai dalam kehidupan nyata. Pasangan lain mungkin akan berpikir dua kali untuk memutuskan menunggu ketika cintanya tak tersampaikan.

Lalu bagian ketika kerinduan Rama dan Sita yang tak bisa terbalaskan. Bagian itu benar-benar menginspirasiku, terutama juga karena ditulis dengan sangat romantis dalam kitab Ramayana.

Tapi siapa yang menyangka kalau semua itu bisa dikalahkan oleh penghasut dalam pikiran Rama, yang meniupkan paham-paham ideologis tentang kesucian Dewi Sita. Hal ini membuktikan sesuatu pada kita; bahwa Rama tak mempercayai Dewi Sita tak peduli berapapun ia diyakinkan kalau Dewi Sita masih suci. Padahal suatu kepercayaan adalah fondasi utama dalam suatu hubungan, dan rupanya hal tersebut belum menjadi fondasi yang kuat bagi Rama dan Sita. Hal yang sangat disayangkan terjadi pada Epos romantic seperti ini.

Aku berpikir, cerita Jawa Kuno bisa lebih dashyat daripada cerita impor manapun. Disamping itu, cerita cinta Jawa Kuno bisa jadi sumber inspirasi akan kehidupan. Datangnya cinta memang dapat menghasilkan berjuta akibat. Mulai dari rivalitas yang menyebabkan peperangan; hingga tentang perjuangan dan pengorbanan.

Betapa pun cinta dapat membuat manusia menjadi buta, namun seperti yang diajarkan naskah-naskah Jawa Kuna: bukan cinta yang hendaknya diagungkan. Tetapi dharma kepada cinta-lah yang harus diperjuangkan.

No Flash Disk, Please!

Another task coming from Mr. Abi

No Flash Disk! copy

Suramadu copy

Things To Remember

Ingat apa kata para pahlawan di film-film hollywood?

“People will remember our name trough decades”

Yah, tapi aku bukan King Arthur yang berhasil mengalahkan pasukan Anglo Saxon, bukan juga 300 pasukan Sparta yang mengalahkan jutaan pasukan persia. Aku hanyalah gadis biasa yang berasal dari suatu tempat yang tak tercantumkan di peta Indonesia keluaran terbaru.

Semuanya berjalan begitu saja, hidup berjalan seperti yang sudah direncanakan, dan tahu-tahu aku sudah mendapati diriku menjadi tak berarti. Di usia yang telah beranjak, tapi di tempat yang sama.

Hmm, mungkin klise. Tapi saat aku mulai menulis inipun, aku mulai sadar kalau sekarang pun aku bisa menebak apa yang akan terjadi dalam hidupku di masa yang akan datang. Bekerja, menikah, mengurus anak, dan akhirnya menjadi tua dan sendirian di tempat yang sama

Lalu apa yang spesial? Tidak ada!

Setidaknya, sebelum masa itu datang aku ingin melakukan sesuatu. Sesuatu yang bisa kuceritakan untuk anak-anak dan cucu-cucuku. Hingga suatu hari nanti aku bisa dengan bangga mengucapkan pada mereka, “Ingat saat….”

Aku benar-benar tidak ingin namaku di sebut sampai beberapa dekade mendatang. Aku hanya ingin merasakan hidup. Lalu apa selama ini aku tak hidup?

Aku hidup! Tapi terkungkung dalam kehampaan  dan segala norma kehidupan. Aku hanya ingin bebas! Melebarkan sayapku dan menjelajah seluruh dunia. Seperti burung yang tak pernah punya beban, hanya dianugerahi sebuah kebebasan lewat sayapnya.

Tapi selangkah pun, aku belum mulai.  Masih saja berjalan di tempat mengurusi segala masalah keluarga, dan teman. Mungkin sebentar lagi. Dan hingga saat itu tiba, aku ingin kalian menjadi bagian dari perjalananku. Merasakan bagaimana aku bernafas selagi aku fana, dan terbebas dari kehampaan yang telah membelengguku.

Karena aku tak ingin melakukan perjalanan ini sendirian.

London’s Real Diagon Alley

Bagi para pencinta Harry Potter, pastinya tahu tentang satu tempat bernama Diagon Alley. Sebuah gang kecil tempat sederetan toko yang menjual peralatan  sihir untuk penyihir dan para murid Hogwarts.

Diagon Alley in Harry Potter worldDiagon Alley di Dunia Harry Potter

Tapi, apakah tempat seperti ini memang benar-benar ada di dunia nyata? Tentu saja! The real Diagon Alley is take a place in London, the city of witches! Banyak sekali gang-gang sejenis ini tersebar di seluruh jantung kota. Setiap tempat memiliki ciri khas yang berbeda serta bangunan-bangunan bergaya victorian yang kuat.

Untuk menjelajahinya, sama sekali tidak diperlukan tongkat sihir, cukup dengan sepatu sneakers yang jika dipakai terasa nyaman di kaki.

Sebelah timur jalan St Martins Lane,  ada sebuah gang kecil dengan papan nama bertuliskan “Goodwin’s Court”. Jangan menilai dari penampilan luarnya. Ini memang hanya sebuah gang yang tak banyak diperhatikan orang di jantung kota London, tapi cermati setiap bata penyusun bagunannya dan setiap belokannya. Maka kalian akan menemukan  The Real Diagon Alley!

2893355278_7bc03dcd22

goodwins-court-04

goodwins-court-02

goodwins-court-01

Dimataku yang amatir, tempat ini sungguh menakjubkan! Sebuah gang sempit yang setiap bangunanya bergaya victoria, jendela-jendelanya yang masih terbuat dari kayu, pintu yang highly polish, bahkan masih lengkap dengan pengetuk pintu berbentuk kepala singa.

Jangan kira kalau tempat ini menggunakan listrik untuk penerangan jalannya. Ada tiga buah lampu tradisional yang masih bekerja di sepanjang Goodwin’s Court, dan hebatnya lagi, ketiga-tiganya menggunakan gas. Atmosfir tempat ini akan membawa kita kembali ke masa abad bertengahan.

2893355286_f4defe3954_m Gas Lamp di Goodwin’s Court

Menurut sejarah, dulunya tempat ini bernama Fishers Alley. Dibangun pada tahun 1627, dan kemudian berganti nama menjadi Goodwin’s Court tahun 1690 sampai sekarang.

Terlepas dari nilai historinya, Goodwin’s Alley layak untuk dikunjungi disamping Trafalgar Square dan Buckingham Palace. Bukan karena sejarahnya, melainkan karena berdus-dus pengalaman nostalgia abad 17.

Previous Older Entries